Rabu, 27 Maret 2013

Orang Pinggiran Indonesia

Kehidupan mewah dan semua kecukupan mungkin tidak saya rasakan sebagai seorang yang berasal dari pinggiran kota Indonesia. mengapa saya katakan kota, dan mengapa saya katakan Indonesia. Memang saya terlahir dan hidup di Desa yang jauh dari kota yang serba mewah dan Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduk desanya merupakan orang pekerja keras. 

Saya akan bercerita tentang sahabat-sahabat saya yang juga sejiwa dengan saya. Mereka adalah orang perantauan yang datang ke tempat saya tinggal. Mereka adalah orang yang kuat dan pekerja keras demi uang untuk makan dan pulang ke kampung halaman mereka. Mereka datang sebagai buruh bangunan yang setiap hari berpanas-panasan dibawah terik matahari.

 Satu ambisi mereka adalah bekerja dengan ditemani sepucuk rokok dan secangkir kopi sudah cukup memberikan semangat kepada mereka. Hingga tak terasa mataharipun senja dengan sendirinya. Setiap harinya itulah yang menjadi aktifitas rutin mereka. Rasa bosen, lelah dan sakit pun sudah menjadi makanan sehari-hari mereka. kadang tak terasa anggota tubuh memar atau berdarah karena terjatuh ataupun tertimpa material hanya untuk sebuah cita-cita yaitu membuat karya terbesar dalam hidup mereka.
 cita-cita terbesar mereka adalah membangun mahakarya terbesar dan termewah dalam sejarah kehidupan yaitu membangun rumah termewah dengan waktu singkat yang menjadi andalan mereka. Tak diragukan lagi bahwa prang-orang perantaulah yang memiliki kekuatan dibanding rakyat pribumi. Akan tetapi yang paling saya sedihkan yaitu mereka membanting tulang demi sebuah karya mereka untuk orang pribumu yang banyak uang. dan akhirnya orang yang menikmati hasil kerja keras mereka.
   Lihatlah betapa gagahnya mereka dengan baju terbuka dan warna kulit gelap, mereka terus berjemur tanpa ada rasa khawatir dirinya akan mati karena kepanasan dan tulang akan lepas karna terlalu sering digunakan. akan tetapi mereka semakin kuat dari hari kehari dan andaikan dilukiskan dengan kata-kata, gunungpunakan roboh jika dia mau

 Gajiha dan malam minggu adalah saat-saat yang ditunggu bagi mereka untuk meregangkan otot yang lelah. Saat gajihan uang sisa setelah ditabung dikumpuklan dengan teman lain menjadi satu. kemudian pergi ke ke tengah kota untuk berpesta bersama dan menghabiskan malam bersama teman-teman dengan sebotol pemanas tubuh.







Dalam keheningan malam dan kondisi tubuh setengan sadar, banyak kata-kata kehidupan yang terucap dari mulut mereka.

Suatu ketika saya bertanya tentang kehidupan politik, dan mereka menjawab " jika saya menjadi anggota DPR, saya akan membuat sumur yang dalam kemudian saya cor menggunakan semen kemudian akan saya isi dengan minuman sehingga jika saya ingin mabuk saya tinggal menimba di sumur menggunakan derek".


Kemudian ada lagi yang bilang, saya tidak pernah terpikir jadi DPR atau Presiden. Yang penting saya bisa merokok, minum, dan makan. 

Dan dalam hati saya bicara, andai saya menjadi anggota DPR atau Presiden, saya akan datang ke Pinggiran Kota Indonesia kemudian saya akan menemui Orang Indonesia Asli seperti mereka dan saya akan membelikan mereka minuman yang banyak sehingga mereka tidak membanting tulang mereka demi koleksi berbotol-botol minuman miras dan angin malam yang menusuk pori-pori mereka.

Semua kejadian dan pengalaman yang saya jalani menjadi Rakyat Kecil di bumi Indonesia ini membuat saya bangkit dan semangat demi sebuah cita-cita terbesar dan mulia. Saya ingin menjadikan diri saya berguna untuk orang lain dan menghapuskan kisah buruk Orang Indonesia Asli dan menjadikan Rakyat Indonesia bermanfaat. Dan saya akan menjadikan kisah dalam lagu-lagu Iwan Fals sebagai nostalgia dan bukan sebagai contoh dalam kehidupan Orang Indonesia.

Janganlah ikut-ikutan Frustasi seperti dalam lagu Mr. Gelek dari Iwan Fals cukuplak Dia yang mengisahkan.

by : Firli H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar